Memahami Rasa Cukup Dalam Hidup: Ketika Manusia Lupa Bahwa Alam Juga Bernyawa
Ditulis Oleh: Fatihatun Puti Sabrina
Tulisan ini dibuat untuk Ibu Bumi, sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus pengingat untuk seluruh makhluk hidup, bahwa: kerakusan hanya akan mendatangkan kesengsaraan.
Setiap tahunnya, bumi kehilangan jutaan hektar hutan. Deforestasi tidak hanya mengakibatkan menghilangnya keanekaragaman hayati, namun juga kepunahan spesies yang hidup di sana. Menurut data dari UN Environment Programme, sebesar 19-23 ton sampah plastik dari darat masuk ke dalam laut setiap tahunnya. Hal ini tentu tidak hanya berbahaya bagi ekosistem laut namun juga bagi makhluk yang tidak sadar bahwa dirinya tengah terancam: manusia.
Apa yang terjadi saat ini muncul karena kurangnya kesadaran pada diri manusia, padahal keseimbangan hanya dapat terjadi bila terdapat keadilan, yang sayangnya selalu hilang untuk mereka 'yang tidak bisa bersuara'.
Mengapa ini penting? Mengapa manusia perlu memikirkan tindakan—bahkan yang tidak memberikan dampak langsung pada diri mereka? Bukankah selama kita hidup dengan aman, duduk di rumah dengan nyaman, semua baik-baik saja? Dan bukankah semua terjadi karena adanya kebutuhan bisnis yang dapat memberikan keuntungan finansial?
Tanpa kita sadar pertanyaan seperti di atas seolah menempatkan manusia pada hierarki tertinggi dalam ekosistem. Pada level ekstrem, menganggap eksistensi makhluk hidup lain tak ada harganya. Padahal kesadaran lingkungan bukan hanya tentang kebutuhan manusia hari ini, tetapi tentang tanggung jawab terhadap semua makhluk saat ini dan di masa depan.
Menyadari Bahwa Rakus Adalah Akar Dari Penderitaan
Bila kita melihat dari ajaran dan tradisi spiritual, hadirnya rasa cukup merupakan salah satu berkah di hidup manusia. Dalam ajaran filsafat Buddha misalnya, pada buku Abhidhamma sehari-hari disampaikan, apabila keserakahan tidak dikendalikan dengan dhamma dan dibiarkan terus menerus keserakahan tidak akan pernah padam. Orang yang serakah, kerap mengambil sesuatu lebih dari apa yang dibutuhkan atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
Orang ini sebenarnya tengah mengalami kekosongan batin.
Mereka akan terus menimbun, tanpa mengerti mengapa tidak pernah hadir rasa 'puas' dalam dirinya. Seolah selalu ada yang terasa kurang, yang pada akhirnya merenggut 'rasa tenang' di hati mereka.
Dalam aspek psikologis, ini akan dikaitkan dengan krisis identitas, kebahagiaan diambil dari faktor eksternal, bukan sesuatu yang memang diri itu inginkan. Hal ini membuat manusia memiliki ketergantungan pada validasi eksternal.
Keseimbangan Yang Sering Dilupakan
Semua
makhluk hidup memiliki ruangnya masing-masing. Pernahkah kita berpikir mengapa Tuhan menciptakan hewan dan tumbuhan untuk hidup berdampingan dengan manusia?
Apakah hadirnya mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia? Makhluk yang bahkan belum memahami makna dari cukup, dan mengerti kapan harus berhenti?
Atau mereka hadir dengan peran dan tujuan sendiri—untuk
membantu manusia melewati fase tertentu dalam hidupnya?
Mungkin, seekor anjing yang kita pelihara hadir di dunia ini dengan tujuan mengajarkan kita arti dari 'unconditional love'?
Mungkin pula, pohon yang setiap hari kita lihat diam-diam mengajarkan manusia tentang kekuatan: tentang bertahan, berakar, walau tak bisa bersuara?
Atau laut—yang selama ini menampung semuanya tanpa memilih—tengah mengajarkan kita tentang kerelaan: tentang melepas, dan tentang tetap utuh, bahkan setelah terluka?
Menyadari bahwa semua hal di semesta hidup secara berdampingan dan memiliki perannya masing-masing adalah hal yang penting.
Hukuman Yang Sering Tak Terlihat
Dalam beberapa fase, saya sempat merenungkan apa ganjaran untuk orang-orang yang telah melakukan kerusakan? Apakah hukuman yang mereka terima hanya akan terjadi setelah kehidupan?
Dan betapa malangnya nasib orang-orang yang menjadi korban atas keserakahan mereka. Orang-orang yang kehilangan rumah, bahkan keluarga—akibat bencana yang bukan mereka sebabkan? Namun orang lain yang mengambil keuntungan dengan eksploitasi alam dan lingkungan?
Saya memahami satu hal, bahwa terkadang hukuman di dunia, tidak selalu berupa hukuman fisik. Karma bekerja dengan caranya sendiri. Terkadang hilangnya ketenangan batin dan selalu merasa khawatir sepanjang hidup, merupakan salah satu bentuk hukuman yang menyiksa.
Mungkin hukum dunia tidak selalu adil, namun percayalah tidak akan ada yang lewat dari perhitungan dan keadilan Tuhan.
Sebagai Catatan penutup
Orang-orang yang memiliki power dan dapat membuat kebijakan yang bisa mempengaruhi hidup makhluk lain, sudah seharusnya memiliki kebijaksanaan.
Dapat berpikir lebih kritis dan reflektif, bukan hanya mengikuti ego dan keinginan yang impulsif.
Dan sudah saatnya kita menghilangkan sikap apatis, mulailah dari hal-hal kecil dan jadikan sebagai kebiasaan. Hilangkan pikiran bahwa 'satu orang tidak bisa membuat perubahan apapun'. Mulai dari hal-hal kecil seperti memilah sampah, tidak membuang sampah sembarangan, juga menanamkan kesadaran bahwa kebahagiaan tidak hanya terjadi dengan mengambil, namun dari memberi.
Berhenti bersikap egois dengan mengedepankan keuntungan dan kenyamanan pribadi, karena sejatinya kita tidak hanya bertanggung jawab untuk apa yang terjadi saat ini, namun di masa yang akan datang.
References: